"Angsa Tiongkok" yang Bikin Adem
"Bu, ada kita jual baju kaos polos putih yang tipis sekali untuk dalaman?"
"Oh, baju kaos Swan? Itu di bagian depan. Pilih meki ada ukurannya. "
Pernah dengar kaos Swan?
Kata itu pertama kali saya kenal sebelum mengikuti diklat prajabatan lima tahun yang lalu. Di
sebuah pusat perbelanjaan semata wayang di kampung tempat saya bekerja,
saya mendengar ibu penjual kaos menyebutnya. Waktu itu saya hanya
memberi petunjuk seadanya mengenai jenis kaos yang saya cari di
lapakannya.
Kaos Swan ini niatnya akan saya jadikan dalaman sebelum mengenakan kemeja putih selama diklat nanti. Alasannya jelas dan sederhana, bahannya tipis dan ringan, tepat untuk jadi dalaman kemeja berwarna putih karena warnanya yang sama-sama putih, pun polos tanpa gambar (kecuali gambar angsa sebagai simbol dari merek Swan di sudut bawah yang nyaris tak nampak). Faktor penting lainnya adalah harganya teramat ekonomis, ramah di kantong. Untuk satu lembar kaos, dibanderol di sekitaran angka 20.000 rupiah. Variasi harga tergantung dari kebijakan masing-masing toko, hingga bahkan ada yang di bawah angka tersebut.
Masih belum terbayang kaos Swan itu seperti apa? Ingat film-film mandarin klasik, di mana tokoh prianya sering menggunakan kaos oblong polos warna putih? Di perguruan kung fu, paman penjual di pasar atau di toko-toko obat, pokoknya kaos ini memang khas oriental. Pada kemasan plastiknya jelas tertera Made In The People's Republic of China dan beberapa huruf mandarin yang entah artinya apa.
Kaos Swan sendiri sebenarnya sudah sangat familiar dalam kehidupan
masa kecil saya. Hanya nama dagang-nya saja yang baru saya ketahui.
Dalam sisa-sisa ingatan masa kecil saya, dulu kakek lebih sering memakai
kaos Swan dalam kesehariannya saat di rumah. Kaos ini memang jenis kaos leyeh-leyeh friendly.
Bukan hanya berfungsi sebagai kaos dalaman, kaos ini juga asyik jadi
teman bersantai di siang hari yang gerah. Teksturnya mungkin tak
selembut kaos Bali atau kaos tye dye, tapi dijamin tak bikin kepanasan.
![]() |
| Foto : google images |
![]() | |||
| Foto : google images |
Nah, sudah ingat kan? Kaos Swan
ini tergolong mudah untuk didapatkan, di kota besar maupun kota kecil.
Kebanyakan dijual di toko-toko milik paman dan bibi yang bersilsilah keturunan oriental,
toko-toko yang menjual beraneka pakaian dalam, atau lapak-lapak di pusat
perbelanjaan sejenis Pasar Sentral dan Pasar Butung Makassar. Ah, pasar lokal di negara kita memang terlalu tunduk pada invasi ekonomi negeri tirai bambu. Ide produksi barang komersial yang mengutamakan fungsi dengan cost yang teramat hemat seakan berpusat di Tiongkok sana. Lalu, di mana posisi negara kita? Benarkah kita masih betah sebagai penirunya peniru? Ataukah orisinalitas ide produsen lokal akan mampu jadi tuan rumah di negeri sendiri?


Komentar
Posting Komentar