Sudah Siapkah Kamu Naik Pete-pete di Makassar ??

Moda transportasi paling banyak dan paling populer di Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar adalah pete-pete. Pete-pete ini umumnya dikenal sebagai angkot atau mikrolet. Dengan warna biru langit, pintu samping yang senantiasa terbuka, dan kursi sejajar yang membuat penumpang di dalam saling berhadap-hadapan, pete-pete sejak dahulu jadi semacam ikon kota ini.

Pete-pete merupakan angkutan umum. Artinya, bukan milik kita pribadi. Artinya, sebagai penumpang, kita harus siap untuk segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Sebagai pengguna setia pete-pete, saya merangkum sedikit dari banyak hal yang harus disiapkan lahir batin untuk naik pete-pete di Makassar.

1. Sabarlah, bahkan pada penantian yang tak pasti
Belajar sabar sejak awal. Sabar pada pak supir yang kadang memacu laju pete-pete bak pebalap formula satu yang sedang menguji kerja rem mobilnya. Sabar saat lagu yang diputar soundsystem pete-pete tak sesuai selera dengan volume dan settingan bass yang membuat kerja jantung lebih keras. Atau sabar meskipun sudah duduk dengan pose dan senyum paling manis di dalam pete-pete, kadang pak supir masih setia menanti (calon) penumpang yang masih di dalam lorong nun jauh di sana. Itupun dengan kemungkinan 50-50, karena yang ditunggu belum pasti memang akan naik pete-pete atau tidak, atau sedang menunggu pete-pete rute lain. Tak jarang, penantian itu berujung pada kata "tidak ji", lalu pete-pete tancap gas diiringi umpatan pak supir. 
Buat mereka yang ditunggu dari kejauhan, luangkahlah sedikit tenaga dan waktu untuk memberi tanda atau kode jika memang tak ingin naik pete-pete tersebut. Biar pak supir juga bisa let go dan move on. Siapa sih yang mau menunggu dalam ketidakpastian........








2. Bergerak lebih awal
Harus siap juga dengan singgah sana singgah sini-nya pete-pete. Namanya juga angkutan umum inisiatif tinggi. Tidak dipanggil saja singgah, apalagi kalau ada yang panggil, pasti singgah dong. Masih ada tempat atau tidak urusan belakang, jalan saja dulu (?!) Jadi sediakan toleransi waktu sebelum naik pete-pete, dengan perkiraan akan singgah berapa kali dalam rute yang dilalui nantinya. Dulu ketika lalu lintas masih bersahabat dengan waktu, jarak Toddopuli/Tamalate-Kampus Tamalanrea bisa ditempuh 45 menit saja. Sekarang, syukur-syukur bisa tiba dalam 60 menit. 

3. Menentukan posisi duduk
Buat saya pribadi, memilih di mana akan duduk dalam pete-pete itu cukup penting. Jika masih lega dan penumpang belum banyak, saya biasanya memilih duduk di dekat jendela. Window seat bukan cuma menyenangkan di pesawat, di pete-pete pun bermanfaat terutama mengurangi rasa gerah dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus dari luar. Jika melihat penumpang sudah cukup padat, usahakan duduk dekat dengan pintu. Itupun jika penumpang lain tidak bergeser mengambil alih spot kosong dan mepet-mepet ke pintu. Kadang diikuti dengan argumen, "dekat ja saya, dek". Saya sih heran, tahu darimana kalau nanti saya turun lebih dulu atau belakangan? 

Pilihan paling akhir adalah duduk dekat kaca belakang, alias mojok. Di jaman kuliah saya begitu menikmati berada di deretan belakang. Bisa sambil tidur atau bertopang dagu menerawang, dengan resiko kebablasan tidur dan tempat turun terlewatkan. Tapi jika mau lebih leluasa, duduk di depan di samping pak supir pun bisa jadi pilihan yang tepat. Lumayan memudahkan jika membawa barang bawaan tanpa perlu nunduk-nunduk dan beradu kaki dengan penumpang lain. Plus bisa makan angin sebanyak-banyaknya dengan kaca jendela yang terbuka full tanpa bisa dinaikkan lagi.

4. Embrace the moment
Entah kenapa, saya suka naik pete-pete kalau tempat tujuan saya jauh. Bisa berlama-lama dalam pete-pete tak jadi masalah buat saya. Tak perlu menyibukkan diri dengan membaca, atau menyumbat kuping mendengarkan lagu dari playlist hp, obrolan penumpang maupun supir sudah cukup jadi hiburan buat saya. Belum lagi kejadian-kejadian di luar yang bisa tertangkap indra kala di perjalanan. Jika penumpang cuma saya seorang diri (sebaiknya jangan ditiru jika naik pete-pete agak larut malam dan melewati rute lengang), saya kadang membuka percakapan ringan dengan pak supir. Biasanya berlanjut dengan sedikit curhatan pak supir soal harga BBM, harga sembako, suka duka narik pete-pete, atau betapa sulitnya memperoleh pekerjaan di jaman sekarang. 



Saya pernah berbincang dengan pak supir yang ternyata satu kampung dengan saya. Dari pak supir tersebut, saya jadi tahu banyak yang berasal dari kampung kami yang mengadu nasib di kota ini dengan menjadi supir pete-pete. Ada juga karyawan di PT. Pelindo lulusan S1 Teknik di Unhas, malamnya nyambi supirin pete-pete miliknya sendiri karena supirnya sudah berganti mata pencaharian. Kadang ada yang mengingatkan untuk berhati-hati mengobrol dalam pete-pete, apalagi dengan sesama penumpang. Takut dihipnotis katanya. Yah, pandai-pandai lihat situasi dan orang sekitar saja lah. Senantiasa menjaga diri dan barang bawaan toh bukan berarti menghalangi kita untuk bersosialisasi selama perjalanan. Juga selalu ingat pesan orang tua untuk tak lupa mengucap Bismillah (dalam hati pun tak apa) ketika akan naik dan turun dari kendaraan.

5. Yang Receh Jangan Dianggap Remeh
Bukan cuma pak supir yang merasa dongkol jika uang yang kita bayarkan dalam pecahan besar tatkala uang kembaliannya tak cukup. Kita pun pasti akan merasa tak enak pada penumpang lain yang harus menunggu lama sementara masalah uang kembalian dipecahkan. Belum lagi posisi singgah pete-pete yang kadang menghalangi kendaraan lain di belakangnya. Siapkan uang pas, atau jika yang ada uang dalam pecahan besar, tak ada salahnya bertanya pada pak supir terlebih dahulu, apakah ada kembalian untuk pecahan tersebut. Jika dalam situasi deadlock, sesekali mengikhlaskan beberapa ribu untuk pak supir sepertinya takkan menyakiti siapapun.

Mungkin masih ada beberapa hal lain yang perlu disiapkan sebelum naik pete-pete. Tapi buat saya, beberapa hal di atas lah yang membuat naik pete-pete itu lebih menarik dan punya seni tersendiri. Angkutan umum ini memang jauh dari kesan mewah dan bergengsi. Malah, pada beberapa unit pete-pete bisa didapati mesin dan karoseri yang sudah uzur hingga nyaris kewalahan berjalan. Sejumput harapan dari pengguna pete-pete sejak dulu adalah perhatian dan dukungan penuh dari pemerintah kota untuk menata sistem transportasi berikut sarananya, serta menetapkan standar keselamatan dan kenyamanan penumpang yang lebih baik. Sehingga lebih banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan transportasi ini, meski di rumah ada kendaraan roda dua yang bisa lebih cepat tiba di tujuan, atau kendaraan roda empat dengan sistem pendingin udara penuh kenyamanan.

*Foto-foto : Google Images (dari berbagai sumber)

Komentar

  1. Orang soppeng ya?? Hehehehehehe,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaa..Soppeng asli..bertemu sesama orang Soppeng ^_^ apa kabar ta kanda?

      Hapus
    2. Alhamdulillah baik2ji.. Mantap tulisannya,, jadi kangen sama kota makassar dan soppeng ,, apalagi pas pulang kuliah atau pulang sekolah tunggu petepete wkwkwkwkwkwk

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Angsa Tiongkok" yang Bikin Adem

Kemeja Kakek