Kemeja Kakek


Sejak usia TK, saya tinggal di kampung halaman bersama kakek dan nenek,serta adik bungsunya. Kedua orangtua saya menjadi pegawai pemerintah di kabupaten sebelah, yang jaraknya 2 jam lebih berkendara. Berat memang tak tinggal bersama anak perempuan satu-satunya yang masih sangat kecil. Tapi dari cerita mama, ada alasan tertentu mereka tidak memboyong saya ke sana. Lagipula, setiap akhir pekan, mereka pulang ke kampung halaman karena jaraknya tak seberapa jauh untuk ditempuh dengan kendaraan roda empat.

Kakek dan nenek belum terlalu renta kala itu. Wangi masakan setiap hari masih tercium dari dapur karena nenek masih sering meracik aneka jenis masakan rumahan, bersama adik bungsunya. Juga sesekali membuat puding susu yang nikmat, indo’ beppa yang lezatnya tak tertandingi toko kue manapun (menyesal tak pernah mencatat resep rahasianya), atau bubur (cefeng) duren yang bikin kecanduan. Oh iya, nenek juga jago membuat bolu peca', kue khas bugis yang sedap manis.

Sedangkan kakek, yang bertubuh kurus jangkung (kata mama dan saudara-saudaranya, di masa mudanya kakek adalah perenang handal), juga menjalani usia produktif yang cukup panjang. Meskipun produktifnya lebih pada urusan otomotif. Ya, kakek sangat aktif mengendarai mobil di dalam kota. Dan sebagai satu-satunya cucu yang tinggal serumah dengannya waktu itu, saya memperoleh manfaat dari hal tersebut. Tidak jarang, sejak SD hingga tamat SMA, kakek mengantar dan menjemput ke sekolah. Walau sebenarnya, saya merasa lebih senang kalau kakek sedang ada keperluan lain hingga tak sempat menjemput. Biasalah, jalan kaki ramai-ramai bersama teman sepulang sekolah adalah bagian yang rugi rasanya kalau terlewatkan.

Bukan hanya soal antar jemput sekolah, kakek juga punya andil besar ketika musim ujian sekolah tiba. Entah itu saat ulangan catur wulan, ujian semester, UAN, UAS, setiap pagi sebelum berangkat ujian, saat akan melangkah ke luar rumah saya bersimpuh di depan kakek yang duduk di kursi. Sambil memegang kepala saya, bibirnya merapalkan doa-doa tanpa suara. Di akhir doa, ditiupnya ubun-ubun kepala saya. Sampai sekarang, saya selalu percaya, ritual itulah yang membuat saya bisa lulus ujian dengan nilai baik. Setidaknya, rasa percaya diri saya lebih tinggi dalam mengerjakan soal-soal ujian.

Hingga beberapa waktu setelah nenek berpulang di 2008, kakek sudah hampir tidak pernah lagi mengendarai mobil, karena kemampuan penglihatan yang sudah tidak memadai lagi. Ia lebih sering naik ojek langganannya jika ingin keluar rumah. Kakek sehari-harinya kerap bercengkrama di warung kopi (kampung saya mungkin lebih tepat disebut kampung warkop karena jumlahnya yang cukup banyak), pagi sore mappanre manu’ di pekarangan yang pakannya sengaja ia beli meskipun ayam-ayam itu milik tetangga sebelah rumah,  atau sekedar membaca koran menggunakan kaca pembesar yang dimaju mundurkan sambil memicingkan mata, karena kacamata usangnya sudah tak maksimal untuk membaca deretan huruf sekecil itu. Namun, di awal tahun 2012, kakek terpaksa harus terbaring lemah di tempat tidur, karena patah tulang sejak terjatuh di halaman belakang rumah beberapa waktu sebelumnya.

Oh iya, saya belum menyebutkan kalau sejak tahun 2004, kedua orangtua saya sudah pindah kembali ke kampung halaman. Kondisi mama pasca operasi di bagian kepala “memaksa” mereka untuk tinggal dekat dengan keluarga di sini, dan sebaiknya memang seperti itu. Beruntung semakin lama, mama semakin sehat dan menghabiskan sisa masa kerjanya di kampung halaman sebelum pensiun di saat yang hampir bersamaan dengan insiden jatuhnya kakek. 

Setelah terjatuh, kakek sama sekali tak bisa bangun dari tempat tidur.  Kecuali mandi, aktifitas lainnya harus dilakukan dengan berbaring. Kata orang kalau di usia tua kita kembali seperti anak bayi, juga terjadi pada kakek. Tiap selang beberapa hari, sudah jadi tugas saya untuk membelikan popok untuk ia kenakan. Tentu selain menjalankan tugas utama, membantu mama merawat kakek. Sampai pada suatu pagi di akhir Oktober, saat saya sedang bersiap berangkat ke tempat kerja, mama sedang di teras, dan tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh di lantai papan rumah kami. Bunyinya cukup keras, terdengar hingga ke teras. Saya dan mama bergegas mengecek ke kamar kakek. Ia tak lagi di tempat tidurnya. Ia sedang tertelungkup di lantai papan. Kakek baru saja terjatuh dari tempat tidur...........

Dari album foto keluarga
Kakek yang tinggi semampai





Sabtu, 23 April 2016. Pagi tadi, saya sedang mencari baju di lemari. Seperti biasanya, saya tak membawa bekal baju saat pulang kampung jika hanya untuk beberapa hari. Tiba-tiba mata saya menangkap lipatan kain berwarna coklat muda, dan segera saya kenali sebagai kemeja kakek. Setelah meminjam kaos Swan milik bapak, saya kenakan kemeja itu, lalu dipasangkan dengan kerudung berwarna senada. Entah ini sudah kemeja yang keberapa yang saya pinjam dari kakek sejak peristiwa di akhir Oktober itu. Ingatan saya seketika melayang ke pagi itu.  Tak lama setelah diangkat kembali dari lantai papan ke tempat tidur, kakek menutup mata untuk selamanya. Ia hanya sanggup bertahan empat tahun tanpa nenek, dan menyerah pada panggilan Yang Kuasa untuk menyelesaikan takdinya di alam fana. Saya bercermin selama beberapa menit, tiba-tiba saja kerinduan akan sosok kakek menyeruak. Mengenakan kemeja kakek bagi saya merupakan salah satu cara berinteraksi dengan kenangan-kenangannya, selain dalam doa tentunya. Sekeping kenangan dari begitu banyak memori bahagia di masa kecil yang selalu ingin membuat saya kembali ke sana, ketika kerumitan masalah "orang dewasa" begitu melelahkan di penghujung hari. ***

Tanggal 16 April 2016, tepat delapan tahun kepergian almarhumah nenek. Tulisan tentang nenek bisa dibaca di blog lama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Siapkah Kamu Naik Pete-pete di Makassar ??

"Angsa Tiongkok" yang Bikin Adem