Pelangi Pagi dan Kotak Ingatan
Di suatu pagi yang masih sama dengan pagi lainnya sejak tiga bulan terakhir, saya sedang duduk di bangku belakang angkutan umum menuju tempat kerja yang jaraknya lebih dari satu jam perjalanan. Saya menoleh keluar jendela, dan melihat langit yang tertutup kelabu sisa hujan tadi subuh. Mata saya lalu menangkap sesuatu di luar sana. Berlatar langit gelap, ada pelangi yang tetap ceria dengan warna-warninya.
Saya yakin saat itu saya tersenyum. Bukan sekedar karena melihat pelangi yang meredam suram yang menggantung di langit pagi itu. Tapi karena menyadari ada dimensi lain dalam tujuan hidup ini. Di antara sejumlah versi untuk apa sebenarnya kita hidup di dunia, mengumpulkan ingatan adalah salah satunya menurut saya. Segala hal yang kita lihat, dengar, lakukan, rasakan, dan berikan, semata untuk mengumpulkan ingatan.
Kita berpijak pada alam kehidupan bersama dengan orang-orang lainnya. Sepenyendiri bagaimanapun kita, kita tahu bahwa kita masih bisa bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Tapi seperti kata vokalis band yang diidolakan sebagian perempuan dewasa di Indonesia, tak ada yang abadi. Terutama kehidupan dan semua di dalamnya, di bumi atau di sudut semesta manapun itu. Semua, kecuali satu, akan berhenti di suatu titik. Akan tiba waktunya kita terpisah dari segala yang ada di luar diri kita, termasuk dari orang-orang yang pernah begitu dekat dan senantiasa menemani setiap saat. Dan jiwa akan dipisahkan dari raga.
Sebuah perjalanan baru yang teramat berbeda dari jenis perjalanan manapun di dunia, akan dimulai di titik itu. Titik akhir yang menjadi sebuah awal. Jalan yang akan dilalui dengan kesendirian yang paling murni. Itulah saatnya kita membuka "kotak ingatan" yang sudah kita isi sepanjang waktu yang telah diberikan sebelumnya. Ingatan-ingatan itulah yang akan menemani selama kita menempuh perjalanan dalam kesendirian.
Isi "kotak ingatan" tak hanya berisi hal-hal besar dalam hidup, tapi juga banyak hal-hal kecil yang bermakna besar. Dan pelangi pada langit kelabu di pagi itu pun termasuk salah satunya. Pelangi itu pun mengingatkan saya bahwa seberat apapun beban hidup, masih jauh lebih banyak hal yang bisa kita syukuri setiap hari. Keluarga dan sahabat yang masih diberi kesehatan, hati yang tetap hangat oleh cinta meski sesekali didera luka, setiap kali membuka mata di pagi hari, bahkan pada setiap tarikan nafas.
Kita hari ini tak pernah lepas dari apa yang dilakukan di waktu lampau. Betapa besar dan banyaknya kesalahan yang pernah saya lakukan, baik pada orang lain maupun diri sendiri, menjadi pelajaran paling berharga yang kadang harus ditebus dengan harga mahal. Meskipun begitu, saya tahu masih ada kesempatan untuk mengganti ingatan akan hal buruk dengan hal baik untuk disimpan dalam "kotak ingatan".
Sambil memandangi pelangi pada langit kelabu di pagi itu yang semakin menjauh dari kaca belakang, saya berjanji pada diri sendiri untuk mulai melakukan kebaikan-kebaikan kecil setiap harinya. Beruntung jika waktu yang tersisa masih lebih panjang dari yang kita perkirakan. Sehingga kelak, "kotak ingatan" yang menemani perjalanan kita dalam kesendirian hanya berisi hal baik, dan sendiri tak lantas menjadi sepi.

Komentar
Posting Komentar